Dr.(H.C.) Ir. H. Soekarno1 (
ER,
EYD:
Sukarno,
nama lahir:
Koesno Sosrodihardjo) (lahir di
Surabaya,
Jawa Timur,
6 Juni 1901 – meninggal di
Jakarta,
21 Juni 1970 pada umur 69 tahun)
[note 1][note 2] adalah
Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode
1945–
1966.
[5]:11, 81 Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.
[6]:26-32 Ia adalah
Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan
Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal
17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai
Pancasila sebagai dasar negara
Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.
[6]
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966
Supersemar yang kontroversial, yang isinya —berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat— menugaskan
Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan.
[6] Supersemar menjadi dasar
Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan
Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen.
[6] Setelah pertanggungjawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (
MPRS)
pada sidang umum ke empat tahun 1967, Soekarno diberhentikan dari
jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang
sama dan Soeharto menggantikannya sebagai pejabat Presiden Republik
Indonesia.
[6]
Nama
Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama
Kusno oleh orangtuanya.
[5] Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.
[5][7]:35-36 Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah
Bharata Yudha yaitu
Karna.
[5][7] Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam
bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".
[7]
Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi
Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (
Belanda)
[7]:32.
Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda
tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam
Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah, selain itu tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun
[7]:32. Sebutan akrab untuk Soekarno adalah
Bung Karno.
Achmed Soekarno
Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis
Achmed Soekarno.
Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke
Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil
Soekarno?"
[butuh rujukan]
karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia
yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki
nama keluarga.
Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan ibadah haji.
[8] Dalam beberapa versi lain,
[butuh rujukan]
disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh
para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar
negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara
Indonesia oleh negara-negara
Arab.
Dalam buku
Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (terjemahan Syamsu Hadi. Ed. Rev. 2011. Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno,
ISBN 979-911-032-7-9)
halaman 32 dijelaskan bahwa namanya hanya "Sukarno" saja, karena dalam
masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa memiliki nama yang
terdiri satu kata.
Kehidupan
Masa kecil dan remaja
Rumah masa kecil Bung Karno
Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama
Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu
Ida Ayu Nyoman Rai.
[5] Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di
Sekolah Dasar Pribumi di
Singaraja,
Bali.
[5] Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama
Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama
Islam.
[5] Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir.
[9]:4-6, 247-251 Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya,
Raden Hardjokromo di
Tulung Agung,
Jawa Timur.
[5]
Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke
Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut.
[5] Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke
Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja.
[9] Kemudian pada
Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke
Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di
Hogere Burger School (HBS).
[5] Pada tahun
1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur.
[5] Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama
H.O.S. Tjokroaminoto.
[5] Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya.
[5] Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin
Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti
Alimin,
Musso,
Dharsono,
Haji Agus Salim, dan
Abdul Muis.
[5] Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda
Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari
Budi Utomo.
[5] Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi
Jong Java (Pemuda Jawa) pada
1918.
[5] Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.
[9]
Soekarno sewaktu menjadi siswa HBS Soerabaja
Soekarno bersama mahasiswa pribumi TH Bandung tahun 1923. Baris belakang dari kiri ke kanan: M. Anwari, Soetedjo, Soetojo, Soekarno,
R. Soemani, Soetono/Soetoto(?), R. M. Koesoemaningrat, Djokoasmo,
Marsito. Duduk di depan: Soetono/Soetoto(?), M. Hoedioro, Katamso.
Tamat
HBS Soerabaja bulan
Juli 1921[10], bersama Djoko Asmo rekan satu angkatan di HBS, Soekarno melanjutkan ke
Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang
ITB) di
Bandung dengan mengambil jurusan
teknik sipil pada tahun
1921,
[1]:38 setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun
1922 mendaftar kembali
[1]:38 dan tamat pada tahun
1926.
[11] Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal
25 Mei 1926 dan pada
Dies Natalis ke-6
TH Bandung tanggal
3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belas
insinyur lainnya.
[1]:37 Prof.
Jacob Clay selaku ketua fakultas pada saat itu menyatakan
"Terutama penting peristiwa itu bagi kita karena ada di antaranya 3 orang insinyur orang Jawa".
[1]:37 Mereka adalah Soekarno, Anwari, dan Soetedjo,
[12]:167 selain itu ada seorang lagi dari Minahasa yaitu Johannes Alexander Henricus Ondang.
[12]:167
Saat di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman
Haji Sanusi yang merupakan anggota
Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto.
[5] Di sana ia berinteraksi dengan
Ki Hajar Dewantara,
Tjipto Mangunkusumo, dan
Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi
National Indische Partij.
Sebagai arsitek
Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai
arsitek alumni dari
Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang
ITB) di
Bandung dengan mengambil jurusan
teknik sipil dan tamat pada tahun
1926.
[note 3] [note 4] [13]
Pekerjaan dan Karya di Bidang Arsitektur
- Ir. Soekarno pada tahun 1926 mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya.
- Ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid Jami' di tengah kota. [14]
Pengaruh Terhadap Karya Arsitektural Semasa Menjadi Presiden
Semasa menjabat sebagai presiden, ada beberapa karya arsitektur yang
dipengaruhi atau dicetuskan oleh Soekarno. Juga perjalanan secara
maraton dari bulan Mei sampai Juli pada tahun
1956 ke negara-negara
Amerika Serikat,
Kanada,
Italia,
Jerman Barat, dan
Swiss.
Membuat cakrawala alam pikir Soekarno semakin kaya dalam menata
Indonesia secara holistik dan menampilkannya sebagai negara yang baru
merdeka.
[15]
Soekarno membidik
Jakarta
sebagai wajah (muka) Indonesia terkait beberapa kegiatan berskala
internasional yang diadakan di kota itu, namun juga merencanakan sebuah
kota sejak awal yang diharapkan sebagai pusat pemerintahan pada masa
datang. Beberapa karya dipengaruhi oleh Soekarno atau atas perintah dan
koordinasinya dengan beberapa arsitek seperti
Frederich Silaban
dan R.M. Soedarsono, dibantu beberapa arsitek junior untuk visualisasi.
Beberapa desain arsitektural juga dibuat melalui sayembara.
[16]
Keluarga Soekarno
Kiprah politik
Sukarno tampil pertama kali pada kulit muka majalah Time tanggal 23
Desember 1946 Vol. XLVIII No. 26, ilustrasi karya Boris Chaliapin untuk
media asal Amerika tersebut
Masa pergerakan nasional
Soekarno untuk pertama kalinya menjadi terkenal ketika dia menjadi anggota
Jong Java
cabang Surabaya pada tahun 1915. Bagi Soekarno sifat organisasi
tersebut yang Jawa-sentris dan hanya memikirkan kebudayaan saja
merupakan tantangan tersendiri. Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan
Jong Java cabang Surabaya Soekarno menggemparkan sidang dengan berpidato
menggunakan
bahasa Jawa ngoko (kasar). Sebulan kemudian dia mencetuskan perdebatan sengit dengan menganjurkan agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam
bahasa Melayu saja, dan bukan dalam
bahasa Belanda.
[18]
Pada tahun
1926, Soekarno mendirikan
Algemeene Studie Club (ASC)[note 5][20] di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari
Indonesische Studie Club oleh
Dr. Soetomo.
[5] Organisasi ini menjadi cikal bakal
Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun
1927.
[11] Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember
1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke
Penjara Banceuy. Pada tahun
1930 ia dipindahkan ke
Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930 ia membacakan pledoinya yang fenomenal
Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal
31 Desember 1931.
Pada bulan Juli
1932,
Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan
pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus
1933, dan diasingkan ke
Flores.
Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun
semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada
seorang Guru
Persatuan Islam bernama
Ahmad Hasan.
Pada tahun
1938 hingga tahun
1942 Soekarno diasingkan ke
Provinsi Bengkulu.
Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun
1942.
Masa penjajahan Jepang
Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang
sempat tidak memerhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama
untuk "
mengamankan" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada
Gerakan 3A dengan tokohnya
Shimizu dan
Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.
Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memerhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno,
Mohammad Hatta,
dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga
untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai
organisasi seperti
Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (
Putera),
BPUPKI dan
PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta,
Ki Hajar Dewantara,
K.H. Mas Mansyur,
dan lain-lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya
tokoh-tokoh nasional bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang
untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan
gerakan bawah tanah seperti
Sutan Syahrir dan
Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan
teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita
bekerja sama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta
mengandalkan kekuatan sendiri.
Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan
Pancasila,
UUD 1945,
dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah
proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke
Rengasdengklok.
Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang
Hideki Tojo
mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki
Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar
Hirohito.
Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga
tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat
pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa
ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada
bulan Agustus 1945, ia diundang oleh
Marsekal Terauchi,
pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang
kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan
rakyat Indonesia sendiri.
Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan
Jepang membuat Soekarno dituduh oleh
Belanda bekerja sama dengan Jepang, antara lain dalam kasus
romusha.
Masa Perang Revolusi
Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
BPUPKI,
Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil
yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan
Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Setelah menemui Marsekal Terauchi di
Dalat,
Vietnam, terjadilah
Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal
16 Agustus 1945; Soekarno dan
Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air
Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain
Soekarni,
Wikana,
Singgih serta
Chairul Saleh.
Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan.
Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum
tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan
menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang
berkembang adalah Soekarno menetapkan momen tepat untuk kemerdekaan
Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan
dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan
bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada
Nabi Muhammad SAW yakni
Al Qur-an.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh
PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada
tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden
dikukuhkan oleh
KNIP.
Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan
tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada tempat 200.000 rakyat
Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata
lengkap.
Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir
Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara
de facto
setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden
Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat
provokasi yang dilancarkan pasukan
NICA (
Belanda) yang membonceng Sekutu (di bawah Inggris), meledaklah
Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jenderal
A.W.S Mallaby.
Karena banyak provokasi di
Jakarta
pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik
Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan
pejabat tinggi negara lainnya.
Presiden Sukarno dan
Nikita Khruschev dalam sebuah pertemuan Kepala Negara yang penuh kehangatan
Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (
presidensiil/
single executive). Selama revolusi kemerdekaan, sistem pemerintahan berubah menjadi
semi presidensiil atau
double executive.
Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai
Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya
maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November
1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia
dianggap negara yang lebih demokratis.
Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan,
kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam
menghadapi
Peristiwa Madiun 1948
serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden
Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi
negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua
Sjafruddin Prawiranegara,
tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri
tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang
sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa
Indonesia-Belanda.
Masa kemerdekaan
Kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika pada 1961 yang disambut dengan hangat oleh sang Presiden
John F. Kennedy
Sukarno berbincang dengan Mao Tse-Tung, 24 November 1956, Peking, China
Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah
Belanda
menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat
sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta
diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik
Indonesia diserahkan kepada Mr
Assaat,
yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari
seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka
pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik
Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat
sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir.
Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden
konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan
setelah berkonsultasi dengannya.
Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat di
kalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana
menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet seumur
jagung" membuat Presiden Soekarno kurang memercayai sistem multipartai,
bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga
ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga
berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa
17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.
Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa
Asia-
Afrika,
masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya
sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil
inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang
menghasilkan
Dasasila Bandung.
Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik
akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap
masih mementingkan
imperialisme dan
kolonialisme,
ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang mengubah
peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam
penyelesaian konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden
Josip Broz Tito (
Yugoslavia),
Gamal Abdel Nasser (
Mesir),
Mohammad Ali Jinnah (
Pakistan),
U Nu, (
Birma) dan
Jawaharlal Nehru (
India) ia mengadakan
Konferensi Asia Afrika yang membuahkan
Gerakan Non Blok.
Berkat jasanya itu, banyak negara Asia Afrika yang memperoleh
kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami
konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam
pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa.
Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang
tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.
[butuh rujukan]
Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia
internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu
dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah
Nikita Khruschev (
Uni Soviet),
John Fitzgerald Kennedy (
Amerika Serikat),
Fidel Castro (
Kuba),
Mao Tse Tung (
RRC).
Masa Marabahaya
Menjadi salah satu pemimpin negara di Asia-Afrika yang menyeru
anti-kapitalisme, neo-kolonialisme, dan kemerdekaan sudah tentu bukan
perkara sederhana. Eksesnya banyak upaya pembunuhan terhadap Sukarno,
dan hanya tujuh upaya pembunuhan yang dapat diingat pengawal setianya di
tahun
vivere pericoloso atau
The year of living dangerously --meminjam frasa sebuah film yang dibintangi
Mel Gibson dengan latar Jakarta 1965
Soekarno,
Presiden Indonesia pertama, sedikitnya pernah mengalami percobaan pembunuhan lebih dari satu kali, Putrinya,
Megawati Soekarnoputri
pernah menyebut angka 23. "Saya ingin mengambil satu contoh konkrit,
Presiden Soekarno itu mengalami percobaan pembunuhan dari tingkat yang
namanya baru rencana sampai eksekusi (sebanyak) 23 kali," tutur Mega
pada
Juli 2009. Sementara itu, angka lebih kecil keluar dari mulut
Sudarto Danusubroto.
Dia ajudan presiden pada masa-masa akhir kekuasaan Soekarno. Sudarto
pernah mengatakan ada 7 kali percobaan pembunuhan terhadap Soekarno.
Jumlah ini pernah diamini oleh eks Wakil Komandan Tjakrabirawa, Kolonel
Maulwi Saelan. Namun bekas pengawal pribadinya, hanya mampu mengingat 7 kali upaya percobaan pembunuhan.
[21]
Granat Cikini
Pada
30 November 1957,
Presiden Soekarno datang ke Perguruan Cikini (Percik), tempat
bersekolah putra-putrinya, dalam rangka perayaan ulang tahun ke-15
Percik. Granat tiba-tiba meledak di tengah pesta penyambutan presiden.
Sembilan orang tewas, 100 orang terluka, termasuk pengawal presiden.
Soekarno sendiri beserta putra-putrinya selamat. Tiga orang ditangkap
akibat kejadian tersebut. Mereka perantauan dari Bima yang dituduh
sebagai antek teror gerakan DI/TII.
[21]
Penembakan Istana Presiden
Pada
9 Maret 1960,
Tepat siang bolong Istana presiden dihentakkan oleh ledakan yang
berasal dari tembakan kanon 23 mm pesawat Mig-17 yang dipiloti Daniel
Maukar. Maukar adalah Letnan AU yang telah dipengaruhi Permesta. Kanon
yang dijatuhkan Maukar menghantam pilar dan salah satunya jatuh tak jauh
dari meja kerja Soekarno. Untunglah Soekarno tak ada di situ. Soekarno
tengah memimpin rapat di gedung sebelah Istana Presiden. (Maukar sendiri
membantah ia mencoba membunuh Soekarno. Aksinya hanya sekadar
peringatan. Sebelum menembak Istana Presiden, dia sudah memastikan tak
melihat bendera kuning dikibarkan di Istana – tanda presiden ada di
Istana). Aksi ini membuat 'Tiger', call sign Maukar, harus mendekam di
bui selama 8 tahun.
[21]
Pencegatan Rajamandala
Pada
April 1960, Perdana Menteri Uni Soviet saat itu,
Nikita Kruschev
mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Dia menyempatkan diri
mengunjungi Bandung, Yogya dan Bali. Presiden Soekarno menyertainya
dalam perjalanan ke Jawa Barat. Tatkala, sampai di Jembatan Rajamandala,
ternyata sekelompok anggota DI/TII melakukan penghadangan. Beruntung
pasukan pengawal presiden sigap meloloskan kedua pemimpin dunia
tersebut.
[21]
Granat Makassar
Pada
7 Januari 1962, Presiden Soekarno tengah berada di
Makassar.
Malam itu, ia akan menghadiri acara di Gedung Olahraga Mattoangin.
Ketika itulah, saat melewati jalan Cendrawasih, seseorang melemparkan
granat. Granat itu meleset, jatuh mengenai mobil lain. Soekarno selamat.
Pelakunya Serma Marcus Latuperissa dan Ida Bagus Surya Tenaya divonis
hukuman mati.
[21]
Penembakan Idul Adha
Pada
14 Mei 1962,
Bachrum sangat senang ketika berhasil mendapatkan posisi duduk pada saf
depan dalam barisan jemaah salat Idul Adha di Masjid Baiturahim. Begitu
melihat Soekarno, dia mencabut pistol yang tersembunyi di balik jasnya,
moncong lalu diarahkan ke tubuh Soekarno. Dalam sepersekian detik
ketika tersadar, arah pun melenceng, dan peluru meleset dari tubuh
Soekarno, menyerempet Ketua DPR GR KH Zainul Arifin. Haji Bachrum
divonis hukuman mati, namun kemudian dia mendapatkan grasi.
[21]
Penembakan Mortir Kahar Muzakar
Pada 1960-an, Presiden Soekarno dalam kunjungan kerja ke Sulawesi.
Saat berada dalam perjalanan keluar dari Lapangan Terbang Mandai, sebuah
peluru mortir ditembakkan anak buah Kahar Muzakkar. Arahnya kendaraan
Bung Karno, tetapi ternyata meleset jauh. Soekarno sekali lagi, selamat.
[21]
Granat Cimanggis
Pada
Desember 1964,
Presiden Soekarno dalam perjalanan dari Bogor menuju Jakarta.
Rombongannya membentuk konvoi kendaraan. Dalam laju kendaraan yang
perlahan, mata Soekarno sempat bersirobok dengan seorang lelaki tak
dikenal di pinggir jalan. Perasaan Soekarno kurang nyaman. Benar saja,
lelaki itu melemparkan sebuah granat ke arah mobil presiden. Beruntung,
jarak pelemparannya sudah di luar jangkauan mobil yang melaju. Soekarno
pun selamat.
[21]
Pembunuhan karakter
Presiden Soekarno dan
Dr.J. Leimena bernyanyi bersama para artis ibukota pada Resepsi Peringatan HUT ke-21 Proklamasi Kemerdekaan RI di
Istana Bogor.
Dekade 1950-an dan 1960-an, Amerika melalui perpanjangtanganannya
Central Intelligence Agency
tidak hentinya berusaha campur tangan dalam setiap urusan negara orang
lain. Di Indonesia selain peristiwa terbongkarnya misi Allen Pope, ada
juga misi rahasia yang bertujuan membunuh karakter dan kewibawaan
Presiden Soekarno melalui agitasi dan propaganda media popular via
produksi film porno yang diperankan oleh pemeran yang mirip Soekarno.
Tujuan dari kampanye hitam ini adalah mengubah persepsi masyarakat
internasional terhadap Sukarno yang anti kapitalisme dan mengagumi kaum
Hawa tapi tunduk tak berdaya di bawah kendali agen rahasia Rusia.
[22] [23]
"Kesuksesan itu menginspirasi para pejabat CIA membuat langkah lebih
jauh lagi. Mereka berniat memproduksi film porno Soekarno dengan seorang
wanita pirang yang dibuat seolah-olah pramugari Rusia itu," tulis Blum
mengutip pengakuan mantan agen CIA, Joseph Burkholder Smith, yang
menulis buku
Portrait of a Cold Warrior. Kepala Kepolisian Los
Angeles sampai turun tangan mencari pria berkulit gelap yang sedikit
botak dan wanita pirang yang cantik. Tak ada yang mirip Soekarno, CIA
membuat topeng khusus yang mirip Soekarno kemudian dikirim ke Los
Angeles. Bintang porno disuruh memakai topeng Soekarno selama beradegan
mesum. CIA merekam dan mengambil foto-foto adegan biru tersebut.
[22]
Menurut Kenneth J. Conboy dan James Morrison dalam
Feet to the Fire: CIA Covert Operations in Indonesia, 1957-1958, film porno itu dikerjakan di studio Hollywood yang dioperasikan
Bing Crosby
dan saudaranya. Film ini dimaksudkan sebagai bahan bakar tuduhan bahwa
Soekarno (diperankan pria Chicano) mempermalukan diri dengan meniduri
agen Soviet (diperankan perempuan pirang Kaukasia) yang menyamar sebagai
pramugari maskapai penerbangan. “Proyek ini menghasilkan setidaknya
beberapa foto, meski tampaknya tak pernah digunakan,” tulis William Blum
dalam Killing Hope: US Military and CIA Interventions Since World War
II.
[23]
Namun foto-foto itu akhirnya tak jadi disebarluaskan. Banyak versi
kenapa CIA batal menyebarkan adegan mesum itu. Sebagian peneliti menilai
kampanye hitam seperti itu tak mempan untuk menjatuhkan Soekarno.
Apalagi ada mitos yang percaya jika seorang laki-laki gagah dan
berkuasa, sah-sah saja berhubungan dengan banyak wanita. Toh raja-raja
di nusantara pun dulu memiliki banyak istri dan selir.
[22] “Nasib akhir dari film, yang berjudul
Happy Days, tak pernah dilaporkan.”
[23]
Masa embargo negara Adi Kuasa
Pada masa pra maupun paska kemerdekaan, Indonesia terjepit pada dua
blok negara Adi Kuasa dengan ideologi yang bertentangan satu sama lain.
Blok kapitalis yang dikomandoi Amerika dan sekutu di satu sisi, dan blok
kiri yang diperebutkan antara poros Rusia dan Cina. Amerika melakukan
kebijakan embargo terhadap Indonesia karena menilai kecenderungan
Sukarno dekat dengan blok rival. Amerika tidak dapat berkutik ketika
Allen Lawrence Pope, agen
Central Intelligence Agency
tertangkap tangan. Tawar-menawar penangkapan Allen Pope, Amerika
Serikat akhirnya menyudahi embargo ekonomi dan menyuntik dana ke
Indonesia, termasuk menggelontorkan 37 ribu ton beras dan ratusan
persenjataan yang dibutuhkan Indonesia saat itu setelah diplomasi
tingkat tinggi antara
John F. Kennedy dengan Sukarno.
[24] Sementara Rusia menerapkan embargo militer terhadap Indonesia karena genosida terhadap elemen kiri, orang
Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965-1967.
[25]
Indonesia sendiri terjepit di antara geopolitik Asia Tenggara, Malaysia
yang dianggap Sukarno adalah negara boneka Inggris, juga Singapura yang
memisahkan diri sebagai negara baru pada 9 Agustus 1965. Sukarno
mengumumkan sikap konfrontatif terhadap pembentukan negara federasi
Malaysia pada Januari 1963. Sehingga pada 1964-1965 negara federasi
Malaysia yang dideklarasikan 16 September 1963 tersebut diembargo
Sukarno.
[26]
Singapura membuka keran kerjasama dan berusaha dengan segala cara untuk
mempertahankan perdagangan dengan Indonesia meski telah diboikot dan
diembargo. Hal ini dianggap merugikan aspek ekonomi bagi Singapura
akibat konfrontasi tersebut.
[27]
Masa Keterpurukan
Situasi
politik Indonesia menjadi tidak menentu setelah enam
jenderal dibunuh dalam peristiwa yang dikenal dengan sebutan
Gerakan 30 September atau G30S pada
1965.
[11][28] Pelaku sesungguhnya dari peristiwa tersebut masih merupakan kontroversi walaupun PKI dituduh terlibat di dalamnya.
[11]
Kemudian massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI
(Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan
menyampaikan
Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan.
[28] Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena bertentangan dengan pandangan
Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme).
[6][28] Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik.
[6][11]
Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah
Surat Perintah Sebelas Maret yang ditandatangani oleh Soekarno.
[28] Isi dari surat tersebut merupakan perintah kepada
Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.
[28] Surat tersebut lalu digunakan oleh
Soeharto yang telah diangkat menjadi
Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang.
[28]
Kemudian MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No. IX/1966
tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No. XV/1966 yang
memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk
setiap saat menjadi presiden apabila presiden berhalangan.
[29]
Soekarno kemudian membawakan pidato pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV
MPRS.
[28] Pidato tersebut berjudul "
Nawaksara" dan dibacakan pada
22 Juni 1966.
[6] MPRS kemudian meminta Soekarno untuk melengkapi pidato tersebut.
[28] Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Soekarno pada
10 Januari 1967 namun kemudian ditolak oleh MPRS pada
16 Februari tahun yang sama.
[28]
Hingga akhirnya pada
20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di
Istana Merdeka.
[29] Dengan ditandatanganinya surat tersebut maka Soeharto
de facto menjadi kepala pemerintahan Indonesia.
[29]
Setelah melakukan Sidang Istimewa maka MPRS pun mencabut kekuasaan
Presiden Soekarno, mencabut gelar Pemimpin Besar Revolusi dan mengangkat
Soeharto sebagai Presiden RI hingga diselenggarakan
pemilihan umum berikutnya.
[29]
Sakit hingga meninggal
Pemakaman Sang Putera Fajar, Sukarno, pada 22 Juni 1970, Blitar, Jawa Timur
Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan
Agustus 1965.
[29] Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan
ginjal dan pernah menjalani perawatan di
Wina,
Austria tahun
1961 dan
1964.
[29]
Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina
menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia menolaknya dan
lebih memilih pengobatan tradisional.
[29] Ia masih bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu,
21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat)
Gatot Subroto,
Jakarta dengan status sebagai tahanan politik.
[5][29] Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh
Ratna Sari Dewi.
[29] Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter
Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan.
[29]
Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani
oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal
Dr. (TNI AD)
Rubiono Kertopati.
[29]
Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:
[29]
- Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Ir. Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.
- Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir. Soekarno dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.
- Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir. Soekarno hingga saat meninggalnya.
Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di
Istana Batu Tulis,
Bogor, namun pemerintahan Presiden
Soeharto memilih Kota
Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno.
[29] Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun
1970.
[29] Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.
[29] Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara.
[29] Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.
[29]
Peninggalan
Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Soekarno pada
6 Juni 2001, maka Kantor
Filateli Jakarta menerbitkan
prangko "100 Tahun Bung Karno".
[9]:247-251 Prangko yang diterbitkan merupakan empat buah prangko berlatar belakang bendera
Merah Putih serta menampilkan gambar diri Soekarno dari muda hingga ketika menjadi Presiden Republik Indonesia.
[9]
Prangko pertama memiliki nilai nominal Rp500 dan menampilkan potret
Soekarno pada saat sekolah menengah. Yang kedua bernilai Rp800 dan
gambar Soekarno ketika masih di perguruan tinggi tahun
1920-an
terpampang di atasnya. Sementara itu, prangko yang ketiga memiliki
nominal Rp900 serta menunjukkan foto Soekarno saat proklamasi
kemerdekaan RI. Prangko yang terakhir memiliki gambar Soekarno ketika
menjadi Presiden dan bernominal Rp1000. Keempat prangko tersebut
dirancang oleh Heri Purnomo dan dicetak sebanyak 2,5 juta set oleh Perum
Peruri.
[9]
Selain prangko, Divisi Filateli PT Pos Indonesia menerbitkan juga lima
macam kemasan prangko, album koleksi prangko, empat jenis kartu pos, dua
macam poster Bung Karno serta tiga desain kaus Bung Karno.
[9]
Prangko yang menampilkan Soekarno juga diterbitkan oleh Pemerintah
Kuba pada tanggal
19 Juni 2008. Prangko tersebut menampilkan gambar Soekarno dan presiden Kuba
Fidel Castro.
[30] Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan kunjungan
Presiden Indonesia, Soekarno, ke
Kuba.
Nama Soekarno pernah diabadikan sebagai nama sebuah gelanggang olahraga pada tahun
1958. Bangunan tersebut, yaitu
Gelanggang Olahraga Bung Karno, didirikan sebagai sarana keperluan penyelenggaraan
Asian Games IV tahun
1962 di
Jakarta. Pada masa
Orde Baru, kompleks olahraga ini diubah namanya menjadi
Gelora Senayan. Tapi sesuai keputusan Presiden
Abdurrahman Wahid, Gelora Senayan kembali pada nama awalnya yaitu
Gelanggang Olahraga Bung Karno. Hal ini dilakukan dalam rangka mengenang jasa Bung Karno.
[31]
Setelah kematiannya, beberapa
yayasan
dibuat atas nama Soekarno. Dua di antaranya adalah Yayasan Pendidikan
Soekarno dan Yayasan Bung Karno. Yayasan Pendidikan Soekarno adalah
organisasi yang mencetuskan ide untuk membangun
universitas dengan pemahaman yang diajarkan Bung Karno. Yayasan ini dipimpin oleh
Rachmawati Soekarnoputri, anak ke tiga Soekarno dan
Fatmawati. Pada tahun 25 Juni 1999
Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie meresmikan
Universitas Bung Karno yang secara resmi meneruskan pemikiran Bung Karno,
Nation and Character Building kepada mahasiswa-mahasiswanya.
[32]
Sementara itu, Yayasan Bung Karno memiliki tujuan untuk mengumpulkan dan melestarikan benda-benda
seni maupun nonseni kepunyaan Soekarno yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
[33] Yayasan tersebut didirikan pada tanggal
1 Juni 1978 oleh delapan putra-putri Soekarno yaitu
Guntur Soekarnoputra,
Megawati Soekarnoputri,
Rachmawati Soekarnoputri,
Sukmawati Soekarnoputri,
Guruh Soekarnoputra,
Taufan Soekarnoputra,
Bayu Soekarnoputra, dan
Kartika Sari Dewi Soekarno.
[33] Pada tahun
2003, Yayasan Bung Karno membuka stan di Arena
Pekan Raya Jakarta.
[9]
Di stan tersebut ditampilkan video pidato Soekarno berjudul "Indonesia
Menggugat" yang disampaikan di Gedung Landraad tahun 1930 serta
foto-foto semasa Soekarno menjadi presiden.
[9] Selain memperlihatkan video dan foto, berbagai cenderamata Soekarno dijual di stan tersebut.
[9] Di antaranya adalah kaus, jam
emas, koin emas,
CD berisi pidato Soekarno, serta kartu pos Soekarno.
[9]
Seseorang yang bernama Soenuso Goroyo Sukarno mengaku memiliki harta benda warisan Soekarno.
[9] Soenuso mengaku merupakan mantan sersan dari
Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang.
[9] Ia pernah menunjukkan benda-benda yang dianggapnya sebagai warisan Soekarno itu kepada sejumlah wartawan di rumahnya di
Cileungsi,
Bogor.
[9] Benda-benda tersebut antara lain sebuah lempengan emas kuning murni 24 karat yang terdaftar dalam register emas JM
London, emas putih dengan cap tapal kuda JM Mathey London serta plakat
logam berwarna kuning dengan tulisan ejaan lama berupa
deposito hibah.
[9] Selain itu terdapat pula uang UBCN (
Brasil) dan
Yugoslavia serta sertifikat deposito
obligasi garansi di
Bank Swiss dan Bank Netherland.
[9] Meskipun emas yang ditunjukkan oleh Soenuso bersertifikat namun belum ada pakar yang memastikan keaslian dari emas tersebut.
[34]
Penghargaan
Semasa hidupnya, Soekarno mendapatkan gelar
Doktor Honoris Causa dari 26
universitas di dalam dan luar negeri.
[35] Perguruan tinggi dalam negeri yang memberikan gelar kehormatan kepada Soekarno antara lain
Universitas Gajah Mada (19 September 1951),
Institut Teknologi Bandung (13 September 1962),
Universitas Indonesia (2 Februari 1963),
Universitas Hasanuddin (25 April 1963),
Institut Agama Islam Negeri Jakarta (2 Desember 1963),
Universitas Padjadjaran (23 Desember 1964), dan Universitas Muhammadiyah (1 Agustus 1965).
[35] Sementara itu,
Universitas Columbia (
Amerika Serikat),
Universitas Berlin dan
Universitas Heidelberg (18 Juni 1956,
Jerman),
Universitas Lomonosov (
Rusia) dan
Universitas Al-Azhar (
Mesir) merupakan beberapa universitas luar negeri yang menganugerahi Soekarno dengan gelar Doktor Honoris Causa.
[35]
Pada bulan
April 2005, Soekarno yang sudah meninggal selama 35 tahun mendapatkan penghargaan dari Presiden
Afrika Selatan Thabo Mbeki.
[9] Penghargaan tersebut adalah penghargaan bintang kelas satu
The Order of the Supreme Companions of OR Tambo yang diberikan dalam bentuk
medali,
pin,
tongkat, dan
lencana yang semuanya dilapisi
emas.
[9]
Soekarno mendapatkan penghargaan tersebut karena dinilai telah
mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh
negara maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan
dalam melawan
penjajahan dan membebaskan diri dari
apartheid.
[9] Acara penyerahan penghargaan tersebut dilaksanakan di Kantor Kepresidenan Union Buildings di
Pretoria dan dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri yang mewakili ayahnya dalam menerima penghargaan.
[9] Penghargaan lainnya
Bintang Mahaputera Adipurna (1959),
[36] Lenin Peace Prize (1960),
[37] Philippine Legion of Honor (Chief Commander, 3 Februari 1951).
[38]
Catatan
- ^ Dalam otobiografi Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams (Bobbs-Merrill Company Inc, New York, 1965) Sukarno menyebutkan lahir di Surabaya, "Bapak dipindah ke Surabaya dan di sanalah aku dilahirkan" (halaman 26), selanjutnya "Aku dilahirkan pada tahun 1901... Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni." (halaman 21). Namun dalam beberapa dokumen mencantumkan tanggal 6 Juni 1902 di antaranya "Dalam Buku Induk TH Bandoeng yang sekarang masih tersimpan di ITB terbaca bahwa tanggal lahir Soekarno adalah 6 Juni 1902."[1]:37[2]:16 Pendapat lain adalah "Dari
Buleleng, ia mendapat temuan ayah Soekarno dipindah ke Surabaya tahun
1901. Dan pada 1902 Soekarno lahir. "Kalau akhirnya dibuat 1901 itu
mungkin untuk memudahkan sekolahnya saja," ujar Nurinwa."[3]
Adapun kontradiksi perbedaan tahun kelahiran ini akhirnya dapat
dijelaskan dalam dialog antara Sukarno dan ayahnya pada halaman 35 "Kalau
perlu kita berbohong. Kita akan mengurangi umurmu satu tahun. Pada
tahun ajaran yang baru engkau akan didaftarkan dengan umur tiga belas." -
Oleh karenanya dapat dipastikan bahwa tanggal kelahiran Sukarno yang
sesungguhnya adalah tanggal 6 Juni 1901.
- ^ "Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970."[4]
- ^ Bambang Eryudhawan, IAI: Ketika berdiri pada tahun 1920, Technische Hoogeschool te Bandoeng
berisi Fakultas Teknik saja. Bidang ilmu yang diajarkan, terutama: a)
Ilmu Pasti, b) Ilmu Alam, c) Mekanika, d) Arsitektur, e) Ilmu bahan
bangunan, f) Sipil Basah/Bangunan air, g) Jalan dan Jembatan, h) Mesin,
i) Elektro, j) Surveying and leveling , k) Geodesi, l) Hukum
pemerintahan dan perdagangan, m) Kebersihan, n) Teknik penyehatan, o)
Pertanian, p) Geologi terapan, q) Sejarah kebudayaan
- ^ Bambang Eryudhawan, IAI:
Soekarno sebagai insinyur dianggap menguasai soal sipil basah, jalan
dan jembatan, serta arsitektur. Di arsitektur, gurunya adalah dua
bersaudara Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker dan Prof. Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker yang mengajar di kelas: arsitektur, sejarah arsitektur, rencana kota, pembuatan bestek dan taksiran biaya.
- ^ Algemeene Studieclub atau Algemeene Studie Club (ASC)
adalah klab kuliah umum yang didirikan oleh para intelektual nasionalis
Bumiputera di Tanah Pasundan, Bandung pada jaman Hindia Belanda tahun
1926. Presiden Sukarno adalah salah satu anggota pendirinya. Sebagai kelanjutan kelompok studi itu, Soekarno dengan kawan-kawan kemudian mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia
yang merupakan cikal bakal Partai Nasional Indonesia pada 4 Juli 1927.
Pemerintah kolonial Belanda tampak sangat khawatir melihat kepopuleran
Soekarno, bersama Maskun, Gatot Mangkupradja, Supriadinata dan
pertumbuhan pesat PNI. Dengan dalih menjaga ketertiban dan keamanan, pemerintah kolonial menangkap dan menahan ratusan aktivis PNI pada 29 Desember 1929.[19]
Referensi
- ^ a b c d e (Indonesia) Goenarso (1995). Riwayat perguruan tinggi teknik di Indonesia, periode 1920-1942. Bandung: Penerbit ITB.
- ^ (Indonesia) Sakri, A. (1979a). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979. Jilid I: Selintas Perkembangan. Bandung: Penerbit ITB.
- ^ Iswidodo (ed.), Surya (Minggu, 29 Agustus 2010 20:28 WIB). "Antropolog UGM: Bung Karno Lahir di Surabaya". tribunnews.com. Diakses tanggal 11 September 2015.
- ^ "Soekarno - biografi". Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia. Diakses tanggal 6 Juni 2015.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s (Indonesia) Kasenda, Peter (2010). Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933. Jakarta: Komunitas Bambu. ISBN 979-373-177-X.
- ^ a b c d e f g h (Indonesia) Warman, Asvi (2009). Membongkar Manipulasi Sejarah. Jakarta: Kompas Media Nusantara. ISBN 979-709-404-1.
- ^ a b c d e (Indonesia) Adams, Cindy (1984). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung Agung. ISBN 979-96573-2-6.
- ^ (Inggris) Adams, Cindy (1965). Sukarno, an autobiography as told to Cindy Adams. New York: The Bobs Merryl Company Inc. ASIN B0007DFFFK.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t Kisah Istimewa Bung Karno. Kompas Media Nusantara. 2010. ISBN 978-979-709-503-1.
- ^ (Belanda) "Nieuwe Rotterdamsche Courant", edisi 15 Juli 1921.
- ^ a b c d e (Inggris) Brown, Colin (2007). Sukarno. Microsoft ® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.
- ^ a b (Indonesia) Sakri, A. (1979b). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979. Jilid II: Daftar lulusan ITB. Bandung: Penerbit ITB.
- ^ a b c "Menguak Sisi Artistik Bung Karno". Arsip Sunjayadi.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal March 10, 2007. Diakses tanggal 18 September 2015.
- ^ Zein, Abdul Baqir (1999). Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press.
- ^ Santi Widhiasih (Senin, 11 September 2006). "Jejak Arsitektur Sang Presiden". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 11 September 2015. Resensi atas buku Bung
Karno Sang Arsitek – Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota,
Interior, Kria, Simbol, Mode Busana, dan Teks Pidato 1926 – 1965
- ^ a b c d Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto (1992). Sejarah nasional Indonesia: Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia. PT Balai Pustaka.
- ^ a b c d Yuke Ardhiati, JJ. Rizal (ed.), Edi Sedyawati (pengantar) (Juni 2005). Bung
Karno Sang Arsitek - Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota,
Interior, Kria, Simbol, Mode Busana, dan Teks Pidato 1926-1965. Depok: Komunitas Bambu.
- ^ Dahm, Bernhard (1987). Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Penerbit LP3ES Jakarta. pp. 47–48. ISBN 979-8015-36-3.
- ^ Yudi Latif (2008). "Indonesian Muslim Intelligentsia and Power". ISEAS Publishing.
- ^ Kasenda, Peter (2013). "SOEKARNO: Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar". Jakarta Selatan: Jurnal Prisma. pp. hal 2 & 3. Membaca kembali Sukarno. Sumber lain menyebut tahun 1924 dan 11 Juli 1925 sebagai hari kelahiran organisasi kuliah umum tersebut
- ^ a b c d e f g h Anwar Khumaini (Jumat, 1 Juni 2012 06:12). "7 Percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno". Merdeka.com. Diakses tanggal 9 September 2015.
- ^ a b c Ramadhian Fadillah (Kamis, 11 September 2014 01:02). "CIA bikin film porno Presiden Soekarno & pramugari cantik Rusia". www.merdeka.com. Diakses tanggal 15 September 2015.
- ^ a b c Yudi Anugrah Nugroho. "Film Porno Mirip Sukarno". historia.id. Diakses tanggal 15 September 2015.
- ^ Kurnia Illahi (Minggu, 16 Agustus 2015−06:39 WIB). "Kecerdikan Soekarno Manfaatkan Soviet dan Amerika". Nasional.sindonews.com. Diakses tanggal 15 September 2015.
- ^ "Ketika Alutsista Diembargo ...". (ryi/bur/fan) (Kompas.com). Diarsipkan dari versi asli tanggal Wed Oct 04 2000 - 16:46:34 EDT. Diakses tanggal 15 September 2015.
- ^ Peter N. Nemetz (1990). The Pacific Rim: Investment, Development and Trade: Second Revised Edition. Vancouver BC: University of British Columbia Press. pp. 16–20.
- ^ Kawin Wilairat. "Singapore's Foreign Policy". Singapore: The Institute of Southeast Asean Studies.
- ^ a b c d e f g h i (Inggris) Aji, Achmad Wisnu (2010). Kudeta Supersemar: Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan?. Garasi House of Book. ISBN 978-979-25-4689-7. Halaman 36, 145.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Huda M., Nurul (2010). Benarkah Soeharto Membunuh Soekarno?. Starbooks. ISBN 978-979-25-4724-5. Halaman 5, 57, 84-89.
- ^ Roy (3 Juni 2008). "Kuba Terbitkan Prangko Bung Karno dan Fidel Castro". Kompas Cyber Media. Diakses tanggal 3 Juni 2008.
- ^ Nurdin Saleh (15 Januari 2001). "Gelora Senayan Siap Berubah Menjadi Gelora Bung Karno". Tempo Interaktif. Diakses tanggal 5 Juni 2010.
- ^ Info UBK, Universitas Bung Karno. Diakses pada 5 Juni 2010.
- ^ a b Profil Yayasan, Yayasan Bung Karno. Diakses pada 3 Agustus 2010.
- ^ "Satria Piningit Mengaku Temukan Harta Karun Bung Karno". Suara Merdeka. 17 Mei 2003. Diakses tanggal 3 Agustus 2010.
- ^ a b c Apa dan Siapa Ir. Sukarno, Yayasan Bung Karno. Diakses pada 3 Agustus 2010.
- ^ "Awards". kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Oct 2015 02:05:58 UTC. Diakses tanggal 17 Oct 2015 02:05:58 UTC.
- ^ Yearbook of the Great Soviet Encyclopedia. Moscow. Russian: Sovetskaya Entsyiklopediya. 1961.
- ^ "Briefer on the Philippine Legion of Honor". Official Gazette of the Republic of the Philippines. Gov.ph. Diakses tanggal 2013-04-13.
Lihat pula
- Algemeene Studie Club (ASC), (1926).
- Marhaenisme, (1926-1927).
- Perserikatan Nasional Indonesia, 4 Juli (1927).
- Indonesia Menggugat, (1930)
- Asas dan Taktik, 1932.
- Matahari Marhaenisme!, 1932.
- Perbedaan Asas Sosial-Demokrat dan Komunis, 1932.
- Lahirnya Pancasila (1 Juni 1945)
- Proklamasi Indonesia (1945)
- Fikiran Ra'jat, (1932).
- Pancasila, (1945).
- Lahirnya Pancasila, 1945.
- Nasonalisme, Agama, Komunisme, (1956).
- Demokrasi terpimpin (1959).
- Manifesto
politik, Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi
Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia (Manipol-Usdek), (1959).
- Penemuan Kembali Revolusi Kita (1959)
- Operasi Trikora, 19 Desember 1961).
- Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara, (1962-1966).
- Ganyang Malaysia, (1962-1966).
- Games of the New Emerging Forces (Ganefo), (1962).
- Sarinah, (1963)
- Unifikasi Indonesia Raya (Indonesia dengan rumpun Melayu), 1920-1950-an.
- Unifikasi Mafilindo (Malaya, Filipina dan Indonesia), 1963.
- Vivere pericoloso, (1964).
- Trisakti, (1964).
- Berdikari, (1965).
- Conference of The New Emerging Forces (Conefo), 7 Januari (1965)
- Gerakan 30 September, 1 Oktober (1965)
- Surat Perintah Sebelas Maret (1966)
- Nawa Aksara, 22 Juni (1966).
- Pidato Nawaksara, 22 Juni (1966).
- Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, 17 Agustus (1966).
- Surat Perintah Sebelas Maret, 11 Maret (1966).
- De-Soekarnoisasi, (1967-1998).
Karya tulis
- Sukarno. Pancasila dan Perdamaian Dunia
- Sukarno. Kepada Bangsaku : Karya-karya Bung Karno Pada Tahun 1926-1930-1933-1947-1957.
- Sukarno. Cindy Adams. (1965). Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
- Sukarno. Pantja Sila Sebagai Dasar Negara.
- Sukarno. Bung Karno Tentang Marhaen Dan Proletar.
- Sukarno. Negara Nasional Dan Cita-Cita Islam: Kuliah Umum Presiden Soekarno.
- Sukarno. (1933). Mencapai Indonesia Merdeka.
- Sukarno. (1951). Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial.
- Sukarno. (1951). Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia.
- Sukarno. (1957). Indonesia Merdeka.
- Sukarno. (1959). Di Bawah Bendera Revolusi : Jilid 1.
- Sukarno. (1960). Di Bawah Bendera Revolusi : Jilid 2.
- Sukarno. (1960). Amanat Penegasan Presiden Soekarno Didepan Sidang Istimewa Depernas Tanggal 9 Djanuari 1960.
- Sukarno. (1964). Tjamkan Pantja Sila ! : Pantja Sila Dasar Falsafah Negara.
- Sukarno. (1964). Re-So-Pim: Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional.
- Sukarno. (1964). Komando Presiden/Pemimpin Besar Revolusi:
Bersiap-sedialah Menerima Tugas untuk Menjelamatkan R.I. dan untuk
Mengganjang "Malaysia"!
- Sukarno. (1964). Tahun "Vivere Pericoloso".
- Sukarno. (1965). Wedjangan Revolusi.
- Sukarno. (1965). Tjapailah Bintang-Bintang di Langit: Tahun Berdikari.
- Sukarno. (1965). Pantja Azimat Revolusi.
- Sukarno. (1966). Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah.
- Sukarno. (1970). Nationalism, Islam and Marxism.
- Sukarno. (1984). Pancasila sebagai Dasar Negara.
- Sukarno. (1984). Ilmu dan Perjuangan.
- Sukarno. (1986). Amanat Proklamasi Jilid IV: 1961-1966.
- Sukarno. (1987). Bung Karno Dan Pemuda: Kumpulan Pidato Bung Karno Di Hadapan Pemuda, Pelajar, Mahasiswa Dan Sarjana, 1952-1960.
- Sukarno. (1988). Warisilah api Sumpah Pemuda: kumpulan pidato Bung Karno di hadapan pemuda, 1961-1964.
- Sukarno. (1988). Kepada Bangsaku.
- Sukarno. (1989). Bung Karno dan ABRI: kumpulan pidato Bung Karno dihadapan ABRI, 1950-1966.
- Sukarno. (1990). Bung Karno dan Islam: kumpulan pidato tentang Islam, 1953-1966.
- Sukarno. (2000). Bebaskan Irian Barat: Kumpulan Pidato Presiden
Soekarno Tentang Pembebasan Irian Barat, 17 Agustus 1961, 17 Agustus
1962.
- Sukarno. (2001). Bung Karno dan Tata Dunia baru.
- Sukarno. (2001). Bung Karno Menggali Pancasila: Kumpulan Pidato.
- Sukarno. (2001). Empat Pidato Penting Bung Karno.
- Sukarno. (2001). Bung Karno: Demokrasi Terpimpin Milik Rakyat Indonesia - Kumpulan Pidato.
- Sukarno. (2001). Bung Karno dan Ekonomi Berdikari: Kenangan 100 Tahun Bung Karno.
- Sukarno. (2001). Mutiara Kata Bung Karno.
- Sukarno. (2001). Bung Karno, Gerakan Massa dan Mahasiswa: Kenangan 100 Tahun Bung Karno.
- Sukarno. (2006). Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam.
- Sukarno. (2001). Bung Karno, Wacana Konstitusi dan Demokrasi: Kenangan 100 Tahun Bung Karno.
- Sukarno. (2001). Bung Karno dan Partai Politik: Kenangan 100 Tahun Bung Karno.
Sukarno dalam budaya pop
Buku
- M. Yuanda Zara. Ratna Sari Dewi Sukarno.
- Sukarno, Iman Toto K. Rahardjo (Editor), Herdianto WK (Editor).
(2001). Bung Karno dan Wacana Islam: Kenangan 100 tahun Bung Karno.
- John Beilenson. Sukarno.
- Cindy Adams. Sukarno: My Friend.
- Adams, C. (2011). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Penerjemah Syamsu Hadi. Ed. Rev. Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno, ISBN 979-911-032-7-9.
- Guntur Sukarno. Sukarno: Bapakku, Kawanku, Guruku.
- Peter Polomka. Indonesia Since Sukarno .
- Clifford Geertz, Benedict Anderson, Wim F. Wertheim. Sukarno di Panggung Sejarah
- Justus Maria van der Kroef. Indonesia After Sukarno.
- Peter Kasenda. Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933.
- Ayub Ranoh. Kepemimpinan Kharismatis: Tinjauan Teologis-Etis Atas Kepemimpinan Kharismatis Sukarno.
- Books LLC. Sukarno: Indonesia-Malaysia Confrontation, Transition to
the New Order, Mohammad Hatta, Megawati Sukarnoputri, Constitution of
Indonesia.
- Anonim. (1956). Presiden Sukarno di Tiongkok.
- Maslyn Williams. (1965). Five Journeys from Jakarta: Inside Sukarno's Indonesia.
- John Hughes. (1967). The End of Sukarno: A Coup That Misfired: A Purge That Ran Wild.
- Bernhard Dahm. (1969). Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan.
- John D. Legge (1972) Sukarno: A Political.
- Christiaan Lambert Maria Penders (1974). The Life and Times of Sukarno.
- Lambert J. Giebels, 1999, Soekarno. Nederlandsch onderdaan. Biografie 1901-1950. Deel I, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam, ISBN 90-351-2114-7
- Lambert J. Giebels, 2001, Soekarno. President, 1950-1970, Deel II, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam, ISBN 90-351-2294-1 geb., ISBN 90-351-2325-5 pbk.
- Lambert J. Giebels, 2005, De stille genocide: de fatale gebeurtenissen rond de val van de Indonesische president Soekarno, ISBN 90-351-2871-0
- Rex Mortimer. (1974). Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965.
- Bambang S. Widjanarko, Antonie C.A. Dake (Introduction), Rahadi S.
Karni (Ed.). (1974). The Devious Dalang: Sukarno and the So-Called
Untung-Putsch.
- Hal Kosut (Ed.). (1976). Indonesia: The Sukarno Years.
- Franklin B. Weinstein. (1976). Indonesian Foreign Policy and the Dilemma of Dependence: From Sukarno to Soeharto.
- Masashi Nishihara, Dean Praty R. (Translator). (1976). Sukarno,
Ratna Sari Dewi, dan Pampasan Perang: Hubungan Indonesia-Jepang
1951-1966.
- Ganis Harsono. (1977). Recollections of an Indonesian Diplomat in the Sukarno Era.
- Fatmawati Sukarno. (1978). Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Book, #1).
- Guntur Sukarno. (1981). Bung Karno & Kesayangannya.
- Rosihan Anwar. (1981). Sukarno, Tentara, PKI : Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965.
- Ramadhan Kartahadimadja. (1981). Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Inggit dengan Sukarno.
- Marshall Green. (1990). Dari Sukarno ke Soeharto: G30 S-PKI dari Kacamata Seorang Duta Besar.
- Willem Oltmans. (1995). Mijn vriend Sukarno.
- John Subritzky. (2000). Confronting Sukarno: British, American,
Australian and New Zealand Diplomacy in the Malaysian-Indonesian
Confrontation, 1961-65.
- Angus McIntyre, David Reeve. (2002). Sukarno in Retrospect: Annual Indonesia Lecture Series # 24.
- Victor M. Fic. (2004). Anatomy of the Jakarata Coup: October 1,
1965: The Collusion with China Which Destroyed the Army Command,
President Sukarno and the Communist Party of Indonesia.
- Antonie C.A. Dake. (2005). Sukarno File: Berkas-berkas Soekarno 1965-1967 - Kronologi Suatu Keruntuhan.
- Wijanarka. (2006). Sukarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya.
- Reni Nuryanti. (2007). Perempuan dalam Hidup Sukarno: Biografi Inggit Garnasih.
- Reni Nuryanti. (2007). Istri-istri Sukarno.
- Helen-Louise Hunter. (2007). Sukarno and the Indonesian Coup: The Untold Story.
- M. Yuanda Zara. (2008). Sakura Di Tengah Prahara: Biografi Ratna Sari Dewi Sukarno.
- Wawan Tunggul Alam. (2008). Demi Bangsaku: Pertentangan Sukarno vs Hatta.
- Arifin Suryo Nugroho. (2009). Srihana-Srihani:Biografi Hartini Sukarno.
- Onghokham. (2009). Sukarno, Orang Kiri, & Revolusi G30S 1965.
- Rushdy Hoesein. (2010). Terobosan Sukarno Dalam Perundingan Linggarjati.
- Tim Buku TEMPO. (2010). Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia.
- Arifin Surya Nugraha. (2010). Fatmawati Sukarno : The First Lady.
- M. Ridwan Lubis (2010). Sukarno dan Modernisme Islam.
- Books LLC. (2010). People From Blitar, East Java: Sukarno.
- Bücher Gruppe. (2010). Nationalheld Indonesiens: Tan Malaka, Liste
Indonesischer Nationalhelden, Sukarno, Mohammad Hatta, Abdul Muis,
Diponegoro, Iskandar Muda.
- Hong Liu. (2011). Sukarno, Tiongkok, & Pembentukan Indonesia (1949–1965).
- Hephaestus Books. (2011). National Heroes Of Indonesia, including:
Tuanku Imam Bonjol, Sukarno, Wage Rudolf Supratman, Diponegoro, Mohammad
Hatta, Adam Malik, Yos Sudarso, Sudirman, Hamengkubuwono Ix, Sutan
Sjahrir, Kartini, Sultan Agung Of Mataram, Abdul Muis, Rizal Nurdin.
- Peter Kasenda. (2012). Hari - Hari Terakhir Sukarno.
- Jesse Russell (Editor), Ronald Cohn (Editor). (2012). Rukmini Sukarno.
- Joseph H. Daves. (2013). The Indonesian Army from Revolusi to
Reformasi Volume 1: The Struggle for Independence and the Sukarno Era.
- Joseph H Daves. (2013). The Indonesian Army from Revolusi to
Reformasi: Volume 1 - The Struggle for Independence and the Sukarno Era.
- Stefan Seefelder. (2014). Die Bedeutung Der Fruhen Komintern Fur Die
Kommunistischen Antikolonialen Bewegungen Asiens. Maos Und Sukarnos.
- Peter Kasenda. (2014). Sukarno, Marxisme & Leninisme: Akar Pemikiran Kiri & Revolusi Indonesia.
- Walentina Waluyanti de Jonge. (2015). Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan.
- Dr. Syafiq A. Mughnie,M.A.,PhD. Hassan Bandung, Pemikir Islam Radikal. PT. Bina Ilmu, 1994, pp 110–111.
- Leslie H. Palmier. Sukarno, the Nationalist. Pacific Affairs, vol. 30, No, 2 (Jun. 1957), pp 101–119.
- Bob Hering, 2001, Soekarno, architect of a nation, 1901-1970, KIT Publishers Amsterdam, ISBN 90-6832-510-8, KITLV Leiden, ISBN 90-6718-178-1
Lagu
Film
- Aktor Filipina, Mike Emperio, memerankan Sukarno dalam sebuah film produksi tahun 1982 berjudul The Year of Living Dangerously disutradarai oleh Peter Weir yang didaptasi dari novel dengan judul yang sama karya tulis Christopher Koch.
- Sosiolog dan penulis Umar Kayam memerankan Sukarno dalam dua buah film produksi tahun 1982 berjudul Penghianatan G 30 S/PKI dan Djakarta 66 dengan sutradara Arifin C. Noer.
- Aktor Indonesia Frans Tumbuan memerankan Sukarno pada film produksi tahun 1997 berjudul Blanco, The Colour of Love (versi mutakhir versi serial televisi, Api Cinta Antonio Blanco) tentang pelukis Spanyol Antonio Blanco yang menetap dan tinggal di Bali, Indonesia.
- Aktor Indonesia Soultan Saladin memerankan Sukarno dalam film produksi tahun 2005 berjudul Gie, sutradara Riri Riza, film yang berkisah tentang kehidupan aktivis cum pelajar Soe Hok Gie.
- Aktor Indonesia Tio Pakusadewo direncanakan akan memerankan Sukarno dalam film 9 Reasons, menceritakan kisah sembilan wanita dalam kehidupan Bapak Pendiri Bangsa: Oetari (diperankan Acha Septriasa); Inggit Garnasih (Happy Salma); Fatmawati (Revalina Sayuthi Temat); Hartini (Lola Amaria); Haryati; Kartini Manoppo (Wulan Guritno); Ratna Sari Dewi (Mariana Renata); dan Yurike Sanger (Pevita Pearce). Uniknya, Tio Pakusadewo juga memerankan mantan karib dan penerus Sukarno, Suharto, pada film bertema biografi sejarah pada tahun 2012, Habibie dan Ainun.
- Aktor Indonesia Ario Bayu memerankan Sukarno pada film produksi 2013, Soekarno: Indonesia Merdeka, sutradara Hanung Bramantyo, berkisah tentang hidup Sukarno sejak lahir sampai kemerdekaan Indonesia dari pendudukan Jepang.
- Aktor Indonesia Baim Wong memerankan Sukarno pada film produksi tahun 2013, Ketika Bung di Ende, yang menekankan pada waktu dan kehidupan Sukarno selama pengasingan di Ende, Flores.
- Aktor Indonesia Dave Mahenra mengambarkan Sukarno pada film produksi tahun 2015, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, sebuah film bigrafi Oemar Said Tjokroaminoto,
seorang nasionalis yang dianggat sebagai mentor bagi para pemimpin
dalam perjuangan bangsa menuju kemerdekaan, termasuk Sukarno sendiri.
Pranala luar
 |
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan:
|
sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno